TopPDF Tugas Sejarah 100 peninggalan sejarah dikompilasi oleh 123dok.com. Upload Loading Top PDF Tugas Sejarah 100 peninggalan sejarah Ratusan keramik kuno yang menjadi peninggalan sejarah kerajaan Kutai itu kini tersimpan di ruang bawah tanah musium mulawarman di Tenggarong, Peninggalan Sejarah Hindu dan Buddha
menghubungkanperiode - periode dalam sejarah. Sebagai contoh, masa kerajaan Hindu Buddha hingga masa kerajaan Islam. Selama sejarah panjang masa Hindu Buddha disebut sebagai konsep keberlanjutan sedangkan ketika Islam masuk dan meruntuhkan pengaruh Hindu Buddha di Indonesia hal tersebut digambarkan sebagai konsep perubahan.
2 Masyarakat Indonesia pada masa Praaksara, tidak pernah menetap di suatu tempat, Masyarakat praaksara hidup dalam kelompok-kelompok dan membekali dirinya untuk menghadapi lingkungan sekelilingnya. Masuknya kebudayaan Hindu menjadikan masyarakat Indonesia mengenal aturan kasta, yaitu: (1) Kasta Brahmana, (2) Kasta Ksatria, (3) Kasta Waisya.
Semuaitu menjadi bagian dari bentuk pengembangan dengan gaya dan cara kita sendiri, yang digerakkan rasio sejarah itu untuk menerangi kehidupan dan membangun "program hidup" bagi generasi masa masa depan. Sejarah mengajarkan kesinambungan: memelihara apa-apa yang baik dari masa lalu dari manapun datangnya dan mengambil yang lebih baik dari
Masamasuk dan bekembangnya Hindu-Budha. 3. Masa masuk dan bekembangnya Islam. 4. Masa kekuasaan kolonialisme. 5. Masa revolusi. 6. Masa Orde Lama. 7. Masa Orde Baru Zaman aksara atau disebut juga dengan zaman sejarah, yaitu zaman ketika manusia sudah menenal tulisan hingga sekarang.
1 HERODOTUS ( 484 - 425 ). Sejarah tidak berkembang kearah masa depan dengan tujuan pasti, bergerak seperti lingkaran yang tinggi rendahnya diakibatkan oleh keadaan manusia. Herodotus dijuluki sebagai bapak sejarah. 2. ARISTOTELES. Sejarah berhubungan dengan hal - hal partikular dan hal - hal yang sudah terjadi. 3.
Dalamperiodisasi ini akan diketahui mengenai perkembangan kehidupan manusia, kesinambungan antara periode yang satu dengan periode berikutnya, terjadi atau tidaknya pengulangan fenomena yang terjadi, dan perubahan dari periode yang awal sampai pada periode-periode berikutnya. Pembabakan sejarah menjadi masa Hindu-Budha, masa Islam, dan
3 Bagaimana kesinambungan antara kebudayaan Hindu dan Islam? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui kondisi kegamaan umat Hindu dan Islam di desa Bajulan Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk. 2. Untuk mengetahui aktivitas kebudayaan agama Hindu dan Islam di Desa Bajulan Kecamatan Loceret. 3.
Teruszaman hindu-budha zaman islam zaman kolonial belanda, zaman pendudukan jepang, zaman kemerdekaan, zaman orde lama zaman orde baru dan zaman reformasi. kesinambungan, perkembangan, pengulangan, dan perubahan sejarah. sosial, ekonomi, kebudayaan, keagamaan dan kepercayaan. Jadi terdapat tiga unsur penting dalam sejarah antara lain
Perubahandan kesinambungan masyarakat Indonesia sejak zaman praaksara hingga masa sekarang. Materi IPS untuk Kelas 7 Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2016 terdiri atas 4 Bab dan 18 sub Bab. Sesuai dengan silabus IPS, Bab 1 dan 2 dipelajari pada semester 1. Bab 3 dan 4 dipelajari pada semester 2.
Dalambuku Kehidupan Masyarakat Pada Masa Praaksara, Masa Hindu Buddha, dan Masa Islam (2019) oleh Tri Worosetyaningsih, tata kehidupan masyarakat yang diatur melalui lembaga kesukuan, berubah menjadi lembaga kerajaan atau lembaga negara. Perubahan tersebut karena pengaruh India yang datang ke Nusantara.
D atharwaweda. E. upanishad. Pembahasan : Agama Hindu bersumber pada kitab weda yang terdiri atas empat samhita atau himpunan, yaitu Regweda, berisi syair-syair kepada dewa; Samaweda berisi nyanyi-nyanyian pujian; Yajurwda berisi do'a-do'a; Atharwaweda berisi mantra-mantra untuk sihir dan ilmu ghaib. Kitab Upanishad merupkan salah satu
Masadalam kehidupan manusia dapat dibagi menjadi dua, yaitu masa prasejarah dan masa sejarah. Ada dua produk revolusioner hasil dari akal manusia pada masa prasejarah, yaitu : 1. Penemuan roda untuk transportasi Pada mulanya, roda digunakan untuk mengangkat barang berat di atas batang pohon, roda disambung dengan kereta, lalu berkembang
44. Menyajikan hasil analisis kronologi, perubahan, dan kesinambungan dalam kehidupan bangsa Indonesia pada aspek politik, sosial, budaya, geografis dan pendidikan sejak masa praaksara sampai masa Hindu-Buddha dan Islam. 4.4.1 Mempresentasikan hasil Diskusi kelompok tentang Kehidupan Masyarakat pada Masa Hindu-Buddha di depan kelas
KehidupanMasa Praaksara Hindu Buddha dan Islam di Indonesia di Berbagai Bidang - Perjalanan Bangsa Indonesia masa praaksara hindu buddha dan islam dipengaruhi oleh adanya iklim serta bentuk muka bumi yang secara tidak langsung juga mempengaruhi kehidupan sosial pada masyarakat Indonesia.
Co5z8I7. ArticlePDF Available AbstractThe development of acculturation of Hindu, Buddhist and Islamic cultures in Indonesia is studied as a part of Indonesian national historical textbooks. In order to understand and discover the elements of acculturation in historical events, this study is conducted based on the historical textbook theory and cultural acculturation theory. This study is aimed at finding the relationship and values in historical education. Critical discourse analysis is used as a method of analysis to unveil the acculturation values contained on history textbooks in schools. Hence, the study results showed that there is a relation between textual study of history textbooks and the acculturation of Hindu, Buddha and Islam culture. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. JPIS Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 26, Nomor 1, Juni 2017 101 AKULTURASI KEBUDAYAANAN HINDU-BUDHA-ISLAM DALAM BUKU TEKS PELAJARAN SEJARAH NASIONAL INDONESIA Yanyan Suryana Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Siliwangi yanyancenter ABSTRACT The development of acculturation of Hindu, Buddhist and Islamic cultures in Indonesia is studied as a part of Indonesian national historical textbooks. In order to understand and discover the elements of acculturation in historical events, this study is conducted based on the historical textbook theory and cultural acculturation theory. This study is aimed at finding the relationship and values in historical education. Critical discourse analysis is used as a method of analysis to unveil the acculturation values contained on history textbooks in schools. Hence, the study results showed that there is a relation between textual study of history textbooks and the acculturation of Hindu, Buddha and Islam culture. Keywords Acculturation, History textbooks ABSTRAK Perkembangan akulturasi kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia merupakan kajian buku teks pelajaran sejarah nasional Indonesia. Agar dapat memahami dan menemukan unsur-unsur akulturasi pada peristiwa sejarah, maka kajian ini harus didasarkan pada teori buku teks pelajaran sejarah dan teori akulturasi kebudayaan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan dan makna nilai dalam pendidikan sejarah. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis teks/wacana kritis pada buku teks pelajaran sejarah di sekolah. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kajian buku teks sejarah dengan akulturasi kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam. Kata kunci Akulturasi Kebudayaan,Buku Teks Pelajaran Sejarah PENDAHULUAN Perkembangan masyarakat Indonesia khususnya menyikapi akulturasi masih berangapan atau memahami bahwa terjadi hanya pada saat ini, padahal akulturasi kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia tidak terjadi secara tiba-tiba namun melalui proses historis yang panjang. Hal itu jauh sebelum masyarakat barat mendengungkan istilah akulturasi kebudayaan,masyarakat Indonesia telah hidup dengan Akulturasi kebudayaan yang sangat kaya yang meliputi suku bangsa, bahasa, adat istiadat, agama, dan sebagainya. Akulturasi kebudayaan tersebut merupakan anugerah bagi masyarakat Indonesia,namun jika tidak dapat disikapi dengan baik, maka akulturasi kebudayaan justru menjadi malapetaka yang dikenal dengan konflik. Hal diatas menunjukan bahwa pendidikan sejarah lewat buku teks dapat menjadi media untuk dapat menyikapinya, maka dipertegas Menurut Helius Sjamsuddin 1998, hlm. 103 kedudukan, fungsi dan peranan buku teks sejarah amat strategis karena menyangkut pembentukan aspek-aspek kognitif intelektual dan afektif apresiasi, nilai-nilai semua peserta didik dari setiap jenjang pendidikan. Perkembangan dan inovasi pendidikan melalui kurikulum dan kemampuan pendidik beserta potensi kompetensi siswa tidak terlepas dari kualitas buku teks pelajaran maka “Dalam wilayah pendidikan, sejarah harus menjadi sesuatu yang memberikan pelajaran bagi kehidupan manusia” Mulyana dalam Hasan, 2012, hlm. iv. Berkaitan dengan hal diatas sudah dapat disimpulkan bahwa ”Sejarah tak hanya pengetahuan, tetapi juga menyangkut kesadaran” Abdullah, 1985, hlm. ix. Maka dengan demikian diperlukan suatu 102 Yanyan Suryana Akulturasi Kebudayaan dalam Buku Teks Pelajaran Sejarah … pembelajaran akulturasi dalam analisis buku teks pelajaran sejarah yang mendeskripsikan peranan pelajaran sejarah terhadap pemaknaan akulturasi kebudayaan. Kondisi di era baru ini banyak terdapat pengaruh dari luar yang berintegrasi dengan sesuatu yang asli dalam arti kelokalan sebagai suatu unsur sehingga menghilangkan unsur-unsur yang aslinya,sehingga disadari atau tidak disadari sudah menjadi bahaya laten yang mampu melupakan bahkan menghilangkan jati diri bangsa,bahkan dapat mendorong retaknya suatu persatuan dan kesatuan. Mengingat hal diatas maka penulis memandang perlunya analisis wacana Historiografi buku teks pelajaran sekolah khusus nya ke arah Akulturasi Kebudayaanan Hindu-Budha dan Islam menjadi pembelajaran pelajaran sejarah untuk menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah kedepan bangsa ini. METODE PENELITIAN Analisis teks/wacana kritis ini terlebih dahulu perlu memahami apa yang dimaksud teks/wacana tersebut, seperti yang diungkapkan menurut Ricoeur bahwa teks adalah wacana, maksudnya berarti mirip tapi tak sama dalam arti bahwa ada perbedaan tetapi perbedaan itu saling melengkapi karena teks itu kumpulan dari wacana. Hal diatas dipertegas menurut Hidayat 1996, hlm. 129-130 bahwa teks adalah “fiksasi atau penggambaran sebuah peristiwa wacana lisan dalam bentuk tulisan”. maka ungkapan secara lisan atau tulisan yang terdapat dalam buku teks pelajaran sekolah khusus berkait dengan kajian akulturasi kebudayaan dalam historiografi pelajaran sekolah merupakan pemaknaan tentang akulturasi kebudayaan Hindu-Budha-Islam sebagai kajian antropologi kebudayaan dengan kajian sejarah yang identik dengan kronologis dan periodesasi. Hubungan, Maksud dan Tujuan Analisis Wacana Kritis pada Buku Teks Sejarah dengan Konsep Akulturasi Kebudayaan. Maka hal diatas menunjukan adanya hubungan, hal itu dipertegas Ihromi, 1999, hlm. 56-57 bahwa informasi Morgan dan Tylor dihimpun dari catatan harian pedagang yang berkelana, para penyiar agama, penjelajah-penjelajah. Proses menggali informasi itu dilakukan oleh para peneliti antropologi sudah termasuk bagian dari metode penelitian sejarah khusus pada tahap heuristik pengumpulan data primer dan sekunder yang ditunjukan oleh pengumpulan catatan harian dari pelaku sejarah dan pelaku akulturasi kebudayaan. Hal tersebut diatas dipertegas menurut Ismaun 1993, hlm. 279 sejarah sebagai peristiwa artinya peristiwa-peristiwa tersebut benar terjadi dan didukung oleh evidensi-evidensi yang menguatkan,seperti berupa saksi mata witness yang dijadikan sumber-sumber sejarah historical sources,peninggalan-peninggalan relics atau remains,dan catatan-catatan records Lucey, 1984, hlm. 27. Berkait bahwa wacana adalah lisan dan di tuangkan dalam teks tertulis dalam historiografi buku teks pelajaran sekolah merupakan proses penelitian sejarah seperti yang diungkapakan Sjamsudin, 1996, hlm. 78 ada dua macam sumber lisan. Pertama, sejarah lisan oral history, contoh ingatan lisan oral reminiscence, yaitu ingatan pertama yang ditutur secara lisan oleh orang-orang yang diwawancarai oleh sejarawan. Kedua, tradisi lisan oral tradition, yaitu narasi dan deskripsi dari orang-orang dan peristiwa-peristiwa pada masa lalu yang disampaikan dari mulut ke mulut. Hal diatas menjadi dasar bahwa konsep akulturasi kebudayaan khusus dalam sejarah perkembangan Hindu-Budha-Islam merupakan salah satu kajian sejarah yang terdapat pada buku teks pelajaran sejarah yang tertuang dalam teks sehingga untuk dapat menggali dan memaknai memerlukan metodelogi analisis teks kritis, maka teks merupakan wacana lisan yang di deskripsikan dalam bentuk teks ini dipertegas Sobur, 2002, hlm. 53 apabila tulisan adalah bahasa lisan yang difiksasikan ke dalam bentuk tulisan, JPIS Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 26, Nomor 1, Juni 2017 103 maka teks adalah wacana lisan yang difiksasikan ke dalam bentuk teks/wacana. PEMBAHASAN 1. Teori Akulturasi Kebudayaan Akulturasi kebudayaan Redfield 1936 adalah suatu fenomena yang merupakan hasil ketika suatu kelompok individu yang memiliki kebudayaanan yang berdeda datang dan secara berkesinambungan melakukan kontak dari perjumpaan pertama, yang kemudian mengalami perubahan dalam pola kebudayaan asli salah satu atau kedua kelompok tersebut. Menyikapi bahwa akulturasi kebudayaan merupakan suatu kontak dan yang melibatkan dua atau lebih komponen atau aspek lainnya yang mendorong suatu dengan hal diatas dipertegas akulturasi menurut Organization for Migration 2004 merupakan adaptasi progresif seseorang, kelompok, atau kelas dari suatu kebudayaan pada elemen-elemen kebudayaan asing ide, kata-kata, nilai, norma, perilaku. Dari defenisi akulturasi diatas kita dapat mengidentifikasi beberapa elemen kunci seperti a. Dibutuhkan kontak atau interaksi antar kebudayaan secara berkesinambungan. b. Hasilnya merupakan sedikit perubahan pada fenomena kebudayaan atau psikologis antara orang-orang yang saling berinteraksi tersebut, biasanya berlanjut pada generasi berikutnya. c. Dengan adanya dua aspek sebelumnya, kita dapat membedakan antara proses dan tahap; adanya aktivitas yang dinamis selama dan setelah kontak, dan adanya hasil secara jangka panjang dari proses yang relatif stabil; hasil akhirnya mungkin mencakup tidak hanya perubahan-perubahan pada fenomena yang ada, tetapi juga pada fenomena baru yang dihasilkan oleh proses interaksi kebudayaan. Berdasarkan beberapa defenisi akulturasi diatas maka dapat disimpulkan bahwa akulturasi merupakan suatu cara yang dilakukan sejak pertama kali melakukan kontak agar dapat beradaptasi dengan kebudayaan baru. 2. Buku Teks Pelajaran Perkembangan pendidikan sejarah tidak akan terlepas dari keterikatan peranan buku teks dalam proses pembelajaran. Secara umum teori buku teks menurut Buckingham bahwa “buku teks adalah sarana belajar yang biasa digunakan di sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran” Tarigan, 2009, hlm. 12. Adapun berkait dengan penulisan sejarah maka buku teks juga tidak lepas dari tujuan pembelajaran dan subjek penggunanya. Hal ini dipertegas Sjamsuddin Mulyana, Gunawan, 2007, hlm. 195. Buku teks merupakan buku pegangan utama dalam proses pembelajaran learning dan pengajaran teaching yang digunakan oleh siswa dan disusun atau ditulis oleh guru atau pakar yang menguasai displinnya dengan tujuan untuk mempermudah proses pembelajaran bagi siswa. Dengan demikian sudah jelas buku teks memiliki tujuan lebih luas,selain dari proses pembelajaran seperti yang dipertegaskan bahwa buku teks sejarah adalah buku teks untuk kepentingan pendidikan sejarah Mulyana, 2012, hlm. 14. Hal diatas dapat disimpulkan buku teks pelajaran sekolah dalam teks/wacana harus memiliki kepentingan sejarah yang berorientasi pada pemaknaan secara tersurat atau tersirat dan nilai guna dari pendidikan sejarah melalui pembelajaran sejarah. Temuan pada buku teks Sejarah Nasional Indonesia dan Umum bertema Akulturasi Kebudayaanan Hindu-Budha-Islam. Konsep akulturasi kebudayaanan pada Hindu-Budha-Islam dalam kajian sejarah Indonesia maksudnya adalah kajian dalam buku teks sejarah Indonesia Bab III Proses Interaksi antara Tradisi Lokal, Hindu-Budha, dan Islam di Indonesia Kelas XI Program Ilmu Sosial dan Bahasa Kurikulum 2004, I Wayan Badrika penerbit Erlangga. 104 Yanyan Suryana Akulturasi Kebudayaan dalam Buku Teks Pelajaran Sejarah … Berkaitan dengan kesimpulan pengertian dan elemen-elemen kunci akulturasi kebudayaan,maka penulis pada kajian sejarah indonesia dalam buku teks tersebut mengidentifikasikannya. “Kedua unsur kebudayaan yang bertemu hidup berdampingan dan saling mengisi,namun perpaduan tersebut tidak menghilangkan unsur asli dari kedua kebudayaan” Badrika, 2004, hlm. 124. Hal diatas sudah menunjukan suatu pengertian akulturasi salah satu ciri nya menunjukan perpaduan dua kebudayaan yang saling berinteraksi untuk mewarnai kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur aslinya sehingga memiliki ke khasan. Dipertegas menurut graves 1967, akulturasi merupakan suatu perubahan yang dialami oleh individu sebagai hasil dari terjadinya kontak dengan kebudayaan lain,dan sebagai hasil dari ikut sertaan dalam proses akulturasi yang sedang dijalani oleh kebudayaan atau kelompok etnisnya. Perubahan yang terjadi pada tingkatan terlihat pada identitas, nilai-nilai, dan perilaku. “Jauh sebelum masuknya kebudayaan, masyarakat telah memiliki kebudayaan yang maju. Unsur-unsur kebudayaanan asli indonesia telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat indonesia. Masuknya pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia” Badrika, 2004, hlm. 124. Unsur-unsur kebudayaan tersebut diterima dan diolah serta disesuaikan dengan kehidupan masyarakat indonesia. Hal ini disebabkan pertama,karena sudah mempunyai kebudayaan yang tinggi sehingga kebudayaan luar menambah perbendaharaan kebudayaan indonesia. Kedua, bangsa Indonesia memiliki apa yang disebut dengan istilah local genius,yaitu kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolahnya sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Dengan demikan menunjukan bahwa perpaduan dan interaksi kebudayaan yang berbeda mewujudkan kebudayaan baru tidak terlepas dari proses seleksi oleh masyarakat lokal asli Indonesia. Hal diatas dapat ditunjukan dalam fenomena peninggalan sejarah yang mendeskripsikan akulturasi kebudayaan Hindu-Budha dengan asli lokal Indonesia. “Seni bangunan candi Hindu dan Budha yang ditemukan di indonesia pada dasarnya merupakan wujud akulturasi kebudayaan,karena dasar bangunan candi ini merupakan hasil pembangunan bangsa indonesia dari zaman Megalithikum, yaitu dari bangunan punden berundak-undak. Punden berundak-undak ini mendapat pengaruh Hindu-Budha,sehingga menjadi wujud sebuah candi”. Badrika, 2004, hlm. 124 Adapun akulturasi kebudayaan yang nampak di indonesia juga ditunjukan oleh seni rupa/seni lukis pada candi,dipertegas menurut Soediman 1986 mengganggap bentuk stupa candi Borobudur yang menyerupai punden berundak sebagai local genius. “Unsur seni rupa/seni lukis telah masuk ke indonesia pada candi borobudur tampak adanya seni rupa India yang ditunjukan oleh relief cerita sang Budha Gautama yang di hiasi oleh alam Indonesia seperti lukisan rumah,hiasan burung merpati, hiasan bercadik” Badrika, 2004, hlm. 124. Hal tersebut menunjukan adanya dua unsur kebudayaan yakni India relief cerita sang Budha Gautama dan unsur asli lokal indonesia. hiasan alam, burung merpati, candik Hal ini menunjukan bahwa keberadaan relief di Indonesia sebagai wujud dari akulturasi. “Pada peristiwa sejarah tidak terlepas dari peranan kesusastraan sebagai upaya menjelaskan peristiwa sejarah dalam kontens kebudayaan masyarakat Hindu-budha yang berinteraksi dengan kebudayaan masyarakat lokal asli Indonesia. Bahasa sansakerta sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan sastra indonesia, seperti prasasti kerajaan Sriwijaya, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, kitab-kitab kuno yang ditulis dengan bahasa Sansakerta dan tulisan Pallawa mendomina JPIS Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 26, Nomor 1, Juni 2017 105 sumber-sumber sejarah”. Badrika, 2004, hlm. 124. “Wujud akulturasi kebudayaanan Hindu ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah dengan adopsi sistem kalender penanggalan India yang menghasilkan kalender tahun Saka yang dipakai masyarakat pada saat itu” Badrika, 2004, hlm. 125. Maka bentuk pedoman waktu yang dipakai masyarakat Indonesia merupakan gabungan dari pengaruh Hindu di India dengan perhitungan kebudayaan lokal asli indonesia yang menghasilkan sesuatu yang baru yakni tahun saka yang dikenal juga perhitungan tanggal masyarakat Jawa tengah dan Jawa Timur seperti adanya kliwon, pahing, pon dan legi. Perkembangan selanjutnya dari akulturasi kebudayaan pada kajian sejarah indonesia dalam buku teks pelajaran sekolah ditunjukan adanya kepercayaan tehadap roh-roh kekuatan alam yang diistilahkan dengan dewa-dewa. “Masyarakat Indonesia sudah mengenal adanya kepercayaan berupa aninisme dan dinanisme, kemudian masuk Hindu-Budha terjadi akulturasi kebudayaan sebagai wujudnya muncul istilah pemujaan terhadap roh nenek moyang dan dewa-dewi di Indonesia”. Badrika, 2004, hlm. 125. Hal diatas tersebut menunjukan adanya suatu pengaruh kebudayaan India dengan kebudayaan lokal asli Indonesia yang kemudian menjelma menjadi suatu kebudayaananbaru dalam bentuk kepercayaan masyarakat lokal asli indonesia yang di dalam mendeskripsikan kedudukan kekuatan roh-roh aninisme sebagai asli kepercayaan masyarakat Indonesia dengan simbol nama dewa-dewa sebagai bentuk kepercayaan dari India, tetapi pada penerapannya di indonesia terjadi perubahan kebudayaan baru dalam kepercayaan yaitu istilah simbol dewa-dewanya berbeda nama akan tetapi sama memperlambangkan kekuatan yang sama. Perkembangan akulturasi kebudayaan di Indonesia selain diwarnai dnegan hindu dan budha dengan kebudayaan lokal asli Indonesia juga terdapat akulturasi kebudayan islam,sehingga nampak lah wujud akulturasi di indonesia sangat banyak multikulturalnya. “Kebudayan Islam Indonesia telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan bangsa indonesia, namun dalam perkembangan pola dasar kebudayaan setempat yang tradisional masih tetap kuat, sehingga terdapat perpaduan seni tradisional asli Indonesia dengan kebudayaan Islam. Perpaduan kebudayaan itu disebut dengan akulturasi kebudayaan” Badrika, 2004, hlm. 136. Adapun wujud dari akulturasi kebudayaan diatas dapat dilihat dari beberapa peninggalan sejarah sebagai bukti dan fakta yang terdapat dalam buku teks sejarah nasional indonesia bab 3 kelas XI program Ilmu Pengetahuan sosial kurikulum 2004 berupa “…masjid-masjid kuno di Indonesia dari segi arsitektur berbeda dengan masjid-masjid di negara Islam di luar Indonesia ini terlihat dari bentuk atap yang bertingkat-tingkat lebih dari satu tingkat dan berbentuk limas secara tersusun dengan ukuran mulai dari atas kecil sampai besar pada tingkatan bawah”. Badrika, 2004, hlm. 136-137. Adapun kondisi tersebut dipertegas atas analisis menurut Sunanto 2010, hlm. 95-96 bahwa pengaruh tersebut dapat dilihat pada hal-hal sebagai berikut a. Bentuk atap masjid. Bentuk atap masjid tidak berbentuk kubah seperti Ottoman style, India style atau Syiro-Egyptian style. Namun berbentuk atap bersusun yang semakin ke atas semakin kecil dan yang paling atas biasanya semacam mahkota. Bilangan atapnya selalu ganjil,kebanyakan berjumlah tiga atau lima. b. Tidak adanya menara. Tidak adaanya menara pada arsitektur masjid di Jawa berkaiatan dengan digunakannya pemukulan bedug sebagai tanda masuk waktu sholat. Dari masjid-masjid tua di Jawa, hanya masjid di Kudus dan Banten yang ada menaranya, dan menara kedua masjid tersebut memiliki bentuk yang berbeda. Menara masjid Kudus berbentuk candi Jawa Timur Majapahit yang telah diubah, disesuaikan penggunaannya dan diberi 106 Yanyan Suryana Akulturasi Kebudayaan dalam Buku Teks Pelajaran Sejarah … atap tumpang. Menara masjid Banten adalah bangunan tambahan pada zaman kemudian, menara tersebut dibangun oleh Cordell, seorang pelarian Belanda yang masuk Islam. Bentuk menara masjid Banten adalah seperti mercusuar. c. Letak masjid. Masjid selalu terletak di dekat istana raja atau adipati/bupati. Di belakang masjid sering terdapat makammakam. Sedangkan di depan istana selalu ada lapangan besar alun-alun dengan pohon beringin kembar. Letak masjid selalu ada di tepi barat istana. Rangkaian makam dan masjid ini pada dasarnya adalah kelanjutan dari fungsi candi pada zaman kerajaan Hindu-Nusantara. Hal ini menunjukan bahwa perkembangan masjid di Islam di Indonesia menandakan adanya perpaduan atau istilah lain yakni akulturasi kebudayaan antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan lokal asli Indonesia,karena jelas masjid kuno tersebut mempunyai ciri yang sangat berbeda dengan masjid-masjid di luar Indonesia secara umum seperti menara, atap dan letak masjid. Adapun mengenai letak masjid sangat jelas berbeda karena mayoritas masjid kuno yang berkembang di Indonesia berdekatan dengan istana kerajaan seperti Masjid Banten, Demak, Cirebon, Yogyakarta. Dipertegas menurut Woodward 2012, hlm. 87, Masjid Agung Demak yang disebut sebagai masjid tertua di Jawa, dan masjid-masjid keraton di Kota Gede Mataram memiliki bentuk atap bersusun seperti kuil-kuil Hindu Asia Selatan. Pola arsitektur ini tidak dikenal di kawasan dunia Muslim lainnya,maka dipertegas Dasuki Hafizh. 1998, hlm. 30 Hal ini berbeda dengan bentuk masjid di wilayah jawa tengah yang cenderung berbentuk piramida/limas seperti Masjid Demak, Masjid Agung Surakarta, dan Masjid Yogyakarta. “Model arsitektur makam pada masa Islam awal sangat dipengaruhi oleh kebudayaan hindu. Hal ini nampak pada bangunan atapnyayang bertingkat-tingkat. Model arsitektur dari masa awal 1 Mustoko/memolo; 2 Atap tumpang; 3 Soko guru tatal; 4 Mihrab; 5 Serambi; 6 model Mihrab di Masjid Agung Demak” Badrika, 2004, hlm. 137. Hal diatas menunjukan bahwa keberadaan makam di indonesia mengalami perpaduan akulturasi antar kebudayaan sehingga memiliki corak yang khas dari kondisi makam Islam di luar Indonesia. Hal ini dapat ditunjukan pada kajian sejarah buku teks pelajaran sekolah “komplek pemakaman pada zaman Islam di Indonesia dipengaruhi kebudayaan Hindu diantaranya 1 makam dan Gapura Sendang Duwur letaknya diatas bukit di daerah Tuhan; 2 Cangkup makam Putri Wari di Leran Gresik; 3 Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim; 4 Makam Masjid Kudus bentuknya serupa dengan candi yang terdapat di Jawa Timur” Badrika, 2004, hlm. 138. Fenomena tersebut menunjukan perpaduan dan interaksi kebudayaan Hindu-Budha dan Islam bercampur menghasilkan kebudayaan baru yang hanya ada di Indonesia. Kesusasteraan zaman madya Islam berkembang di daerah selat Malaka, akan tetapi perkembangnya tidak sebesar kesusasteraan zaman purba Hindu-Budha. Hal ini dikarenakan tidak ada tempat khusus untuk melestarikannya seperti kesusasteraan purba yang masih tersimpan rapih di Bali. Kesusasteraan zaman madya Islam yang ada saat ini sebagaian besar merupakan hasil gubahan baru sebagai suatu bentuk akulturasi kebudayaan. Adapun hal diatas dapat dipelajari pada sejarah buku teks pelajaran sekolah yang menjelaskan sebagai berikut. “Perkembangan awal seni sastra Indonesia pada zaman Islam berkisar di sekitar selat Malaka sebagai pertumbuhan baru dan di Jawa sebagai perkembangan lebih lanjut dari seni sastra zaman Hindu”. Badrika, 2004, hlm. 139. Pada perkembangan akulturasi kebudayaanan Islam dengan kebudayaan lokal asli Indonesia terdapat gubahan karya JPIS Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 26, Nomor 1, Juni 2017 107 sastra hasil kebudayaan Islam berubah menjadi karya akulturasi kebudayaan baru di Indonesia. Hal tersebut menjadikan kesusastraaan Kesusasteraan zaman madya berdasarkan sifatnya dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu hikayat, babad, suluk, dan kitab primbon. Pertama, hikayat merupakan cerita atau dongeng yang biasanya penuh dengan keajaiban dan keanehan tidak jarang pula, hikayat berpangkal pada tokoh-tokoh sejarah dan peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi “Hasil sastra yang muncul pada zaman Hindu disesuaikan dengan perkembangan zaman Islam. Diantara karya sastra tersebut antara lain Mahabrata, Ramayana, dan Panctantra digubah menjadi hikayat pandawa lima, Hikayat Perang Pandawa Jaya, Hikayat Sri Rama, Hikayat Maharaja Rahwana, Hikayat Pancatantra dan sastra cerita panji tersebar di Asia Tenggara dalam seni sastra Islam di daerah melayu dikenal dengan Syair Ken Tambuna, Lelakon Mahesa Kumitir, Syair Panji Sumirang, cerita Wayang Kinundang, Hikayat Panji Kuda Sumirang, Hikayat Cekel Waning Pati, Hikayat Panji wilah Kusuma, dan banyak lainnya” Badrika, 2004, hlm. 139 Perkembangan akulturasi kebudayaan seni sastra diatas terdapat pula kitab-kitab Suluk. kitab parimbon Kitab Primbon memiliki kedekatan dengan Suluk. Primbon menerangkan tentang kegaiban. Berisi ramalan-ramalan, penentuan hari baik dan buruk, dan pemberian makna pada suatu kejadian. Contoh kitab Primbon adalah kitab Primbon Bataljemur Adam makna, dan kitab Primbon Lukman Hakim. “Kitab ini bercorak magis dan berisi ramalan-ramalan dan penentuan hari-hari baik dan buruk serta pemberian-pemberian makna pada suatu kejadian” Badrika, 2004, hlm. 139 Adanya doktrin Islam yang melarang untuk menggambarkan makhluk hidup dan memperlihatkan kemewahan, maka pada zaman awal Islam di Nusantara ada berbagai cabang kesenian yang kehilangan daya hidupnya, dibatasi, atau disamarkan. Misalnya, seni arca, seni tuang logam mulia, dan seni lukis, sehingga jenis seni tersebut kurang berkembang. Namun demikian, ada juga seni yang berasal dari zaman Hindu-Budha yang terus berlangsung walaupun mengalami penyesuaian dengan nilai-nilai Islam, misalnya seni wayang. Seni wayang dilakukan dengan dibuatkan cerita-cerita yang mengambil tema-tema Islam seperti Pandawa Lima, dan Kalimasada, dengan gambar manusianya disamarkan, tidak seperti manusia utuh supaya tidak menyalahi peraturan Islam. Menurut Sunanto 2010, hlm. 100-101, Cerita Amir Hamzah, bahkan dipertunjukan melalui wayang golek dengan tokoh tokohnya diambilkan dari pahlawan-pahlawan Islam. Wayang menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai Islam pada saat itu. Di samping itu, muncul juga wayang yang dimainkan oleh orang-orang, sehingga drama dan seni tari masih tetap berkembang dengan disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. Maka pada hal tersebut nampak adanya perpaduan dua atau lebih unsur kebudayaan dan interaksi kebudayaan menghasilkan kebudayaan baru yaitu pertunjukan wayang yang kebudayaan itu tidak terdapat aslinya di Hindu India tetapi hanya di dapat pada saat Islam berkembang di Indonesia yang termasuk karya inovatif sang wali Sunan Kalijaga dalam menanamkan nilai-nilai Islam. Hal diatas dipertegas menurut Yatim 2010, hlm. 203 adapun tema wayang yang telah dimasuki dengan nilai-nilai Islam dipentaskan sebagai sarana mengajarkan nilai-nilai Islam kepada para penonton, yang notabene telah masuk Islam karena telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Perkembangan dan pertumbuhan akulturasi kebudayaan diatas merupakan sebuah peninggalan sejarah yang berkait dengan interaksi dan perpaduan manusia dalam melakukan aktivitas yang bernuansa kebudayaan sebagai hasil cipta karya baik abstrak atau konkrit. 108 Yanyan Suryana Akulturasi Kebudayaan dalam Buku Teks Pelajaran Sejarah … SIMPULAN Pada penulisan artikel ini penulis mengungkapkan suatu gagal paham bagi masyarakat awam yang hanya melihat pada aspek kebudayaan tanpa memahami bahwa proses terjadinya akulturasi budaya merupakan hasil perkembangan sejarah Indonesia. Pada kajian ini penulis menghubungkan kajian akulturasi kebudayaan tersebut melalui kajian buku teks sejarah sebagai pelajaran sekolah dengan maksud memahami makna sejarah dalam kepentingan pendidikan sejarah untuk membangun kesadaran sejarah dan pemaknaan nilai-nilai sejarah yang berkait dengan proses akulturasi kebudayaan, maka dipandang perlu peranan buku teks sejarah sebagai jembatan kepentingan pendidikan sejarah. Dalam hal menjembatani tersebut maka penulis melakukan analisis akulturasi kebudayaan dalam buku teks sejarah pelajaran sekolah dalam memahami konteks akulturasi budaya dalam kajian sejarahnya. Berkait dengan maksud di atas untuk dapat menemukannya dilakukan dalam suatu metodologi penelitian yaitu analisis teks/wacana kritis agar dapat menggali pemaknaan peristiwa sejarah terhadap akulturasi kebudayaan. Pada artikel ini sudah jelas bahwa metodologi historiografi buku teks pelajaran sekolah memiliki hubungan dan mempengaruhi pada proses terjadi dan terbentuknya akulturasi kebudayaan Hindu-Budha-Islam di Indonesia. Hal tersebut dalam analisis teks/wacana memerlukan suatu pikiran kritis maka penulis mengambil metodeloginya analisis teks/wacana kritis. Kaitan dengan maksud dan tujuan tersebut maka langkah awal penulis mendeskripsikan tentang kajian teori dari akulturasi kebudayaaan dan buku teks sejarah dalam pendidikan sejarah agar menjadi landasan pijakan dalam menemukan teks/wacana yang mengandung unsur akulturasi kebudayaan pada buku teks sejarah pelajaran sekolah kelas XI pada pembahasan bab III Proses Interaksi antara Tradisi Lokal, Hindu-Budha, dan Islam di Indonesia Kelas XI Program Ilmu Sosial dan Bahasa Kurikulum 2004, I Wayan Badrika penerbit Erlangga. REKOMENDASI Secara umum berdasarkan analisis teks/wacana dapat ditemukan teks/wacana yang mendeskripsikan tentang proses akulturasi kebudayaan pada peninggalan-peninggalan dan bukti sejarah pada masa Hindu, Budha dan Islam dengan budaya lokal asli di Indonesia. Adapun penulis pada kajian historiografi buku teks dalam pelajaran sekolah ini mengharapkan 1 dapat menjadikan suatu wawasan dan pengetahuan bahwa proses akulturasi kebudayaanan merupakan berhubungan dengan peristiwa sejarah, 2 menumbuhkan kesadaran sejarah dalam memahami kebudayaan, 3 mengingatkan peranan suatu teks/wacana dalam memberikan penafsiran pemaknaan akan nilai-niai aspek kehidupan baik yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan sejarah dan kebudayaaan. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, T. Ed. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi Arah dan Perspektif. Yogyakarta Gajah Mada University Press. Abdullah, Taufik. Ed. 1985. Ilmu Sejarah dan Historigrafi Arah dan Perspektif. Jakarta PT. Gramedia. Abullah, T. 2005. “Kata Pengantar” dalam Sartono Kartodirjo. Sejak Indisch sampai Indonesia. Jakarta Penerbit Buku Kompas. Adisukma Wisnu 2017. Akulturasi Kebudayaan Masa Islam Di Indonesia. kebudayaanmasa-Islam-di indonesia diakses pada 3 Maret 2017 jam WIB. Badrika Wayan I. 2004. Buku Paket Sejarah Nasional Indonesia dan Umum SMA. Jakarta Erlangga. JPIS Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 26, Nomor 1, Juni 2017 109 Dalam Simposium Pengajaran Sejarah Kumpulan Makalah Diskusi Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998. Hasan, S. Hamid 2008. Pendidikan Sejarah dalam Rangka Pengembangan Memori Kolektif dan Jatidiri Bangsa. Makalah Tribute untuk Prof. Sartono Kartodirdjo. Hasan, S. Hamid. 2012. Pendidikan Sejarah Indonesia. Bandung Rizqi Press. Helius Syamsudin, “Penulisan Buku Teks Sejarah Kriteria dan Permasalahannya”. Hidayat, Komarudin. 1996. Memahami Bahasa agama Sebuah Kajian Heureumatika. Jakarta Lembaga Studi Pers dan Pembangunan. Mark R. Woodward. Islam Jawa Kesalehan Normatif Versus Kebatinan. Yogyakarta LKIS Yogyakarta, 2012. Mulyana, A. 2012. Nasionalisme dan Militerisme Ideologisasi Historiografi pada Buku Teks Pelajaran Sejarah Nasional Indonesia untuk SMA Laporan Penelitian. Bandung Prodi Sejarah- SPS UPI. Tidak diterbitkan. Musyrifah Sunanto. 2010. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Jakarta Rajawali Pers. Badri Yatim. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta Rajawali Pers. Sobur Alex. 2002. Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Analisis Framing. Bandung PT Rosda. Soediman. 1986. “Local Genius dalam Kehidupan Beragama” dalam Ayotrohaedi. Kepribadian Budaya Bangsa Local Genius. Jakarta Pustaka Jaya. ... Education has been practiced in Indonesia since before man knew how to write, referred to as prehistoric times, and education at that time had a simple meaning education obtained through the environment with the goal of surviving Argaheni, 2020;Aritantia et al., 2021;Helaluddin et al., 2019;Zamroni, 2016. Following development education, education in development Hindu-Buddhist enters the classical era, at which time education has already seen development Mardiani et al., 2019;Suryana, 2017. ...Diah WicahyahAlvian Kisna AsyariDedi IrwantoLR Retno SusantiDevelopment Buddhist education on the island of Sumatra, specifically in the Srivijaya Kingdom, began in the seventh century. At the time, there was a city big a Chinese Buddhist monk I'Tsing who came see that Buddhism was very developed in life Public Srivijaya as well as he said many activity students who come to Srivijaya for study. The purpose of writing this is to have a deeper understanding of the entwined relationship between the Srivijaya Kingdom and India, particularly in the sphere of education. This article will not only analyze the relationship between education and Buddhism in South Sumatra, but will also describe Buddhist education, the relationship that exists between Kingdom Srivijaya and other countries in numerous fields, and provide proofactual links of cooperation in the sphere of Buddhist education that were previously connected The introduction of Hindu-Buddhist culture to Indonesia had a significant impact, such as the beginning of the development of religion and culture imported from India. This method of research is used in article writing to gather knowledge and resources in the form of articles, journals, books, and ebooks. As a result of the research, more detailed information about the entry and development of Buddhism in South Sumatra, as well as the types of relationships and physical evidence, is available.... This is because this tradition is thought to have existed in Indonesia for centuries, since the arrival of Islam. In addition, this tradition is thought to be related to Islamic principles, In addition to bathing in the river with lime which is considered to purify the body, this ritual is also used to increase the sense of brotherhood among Muslims by visiting each other and apologizing Mawarti, 2020 Indonesia, but if it is not addressed properly it has the potential to turn into conflict Suryana, 2017. ...The aim of this study is to examine the practice of Petang Megang tradition on indigenous Muslim Malay people in Pekanbaru Riau in welcoming the holy month of Ramadhan, and to investigate the influence of Hinduism on this annual tradition. Petang Megang ritual does not only function as a passed-on tradition, but also reflects the acculturation of Hindu and Islam, social interaction, and community culture. This research is a descriptive study, in which data obtained are presented, analyzed, and explained. This study found that Petang Megang tradition reflects a strong relationship between the two beliefs, Hindu and Islam. The relationship can be seen in the similar concepts of purification in Petang Megang which is similar to tirtayatra in Hindu and wudhu ablution in Islam. Despite bringing similarity to Hindu tradition, Petang Megang serves as a medium of Islamic dawah propagation where it introduces a cultural practice in its relation to religious event Ramadan. This study suggests that Petang Megang is a symbol of longstanding harmonious coexistence between Hindu and Islam in the region.... Initially, the ethnic Cirebon was always associated with Sundanese and Javanese. Later on, the community was also influenced by Hinduism, Buddhism and Islam, marked by the construction of Cirebon palaces in the 15th century, based on the Islamic religion Ambary 1988;Lawi 2018;Suryana 2017. ...Nia Yunia Lestari Purnama SaluraBachtiar FauzyCirebon is a unique city with 3 palaces, including Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan. The palaces are influenced by the history and culture of the Baluwarti palace, which is believed to have specific concepts in the arrangement and placement of building masses. This study examines the concepts underlying Baluwarti in the 3 Cirebon palaces. This is achieved by first studying the basis of Palace's trust rules used to regulate the mass placing of the palace building. Subsequently, the study uses an architectural anatomical theory consisting of the building site and scope, and the property-composition theory to explore the orientation and position of the Palace building. The results showed that the concept underlying Baluwarti in the 3 Cirebon palaces consists of Javanese and Sundanese cosmologies as building orientation, the type of land on which it was built, and Mahameru and the building position. This research contributes to the general architecture in the uniqueness of historical, cultural and local values. Also, it provides architectural information regarding the concepts underlying Baluwarti in the 3 Cirebon Anggraeni DyahFarhan Kahirillah ZeinKeraton Kasepuhan is located at Jalan Kasepuhan No. 43, Kampung Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Cirebon, West Java. Keraton Kasepuhan is a very luxurious palace and the most well preserved in the city of Cirebon, and it is currently the centre of government. The Keraton Kasepuhan was built by Prince Cakrabuana, and at that time the Keraton Kasepuhan was named Keraton Pakungwati. In 1483 Keraton Kasepuhan expanded and renovated by Sunan Gunung Jati. Consequently, the Keraton Kasepuhan is influenced by foreign cultures from Europe and China and local culture from Hinduism and Java. Currently, the historical heritage of the Keraton Kasepuhan is still well maintained and has a high architectural value. The purpose of this research is to understand the influence of foreign culture and local culture on the development of Keraton Kasepuhan Cirebon buildings, where the research method used is Qualitative Research Method with Phenomenological Approach undertaking interviews with history experts and field studies at Keraton Kasepuhan. The result of the analysis of the influence of foreign culture and local culture on the development of Keraton Kasepuhan building will emerge on how the influence of acculturation of foreign and local culture in Keraton Sejarah dan Historigrafi Arah dan PerspektifTaufik AbdullahAbdullah, Taufik. Ed. 1985. Ilmu Sejarah dan Historigrafi Arah dan Perspektif. Jakarta PT. Pengantar" dalam Sartono Kartodirjo. Sejak Indisch sampai IndonesiaT AbullahAbullah, T. 2005. "Kata Pengantar" dalam Sartono Kartodirjo. Sejak Indisch sampai Indonesia. Jakarta Penerbit Buku Paket Sejarah Nasional Indonesia dan Umum SMAI Badrika WayanBadrika Wayan I. 2004. Buku Paket Sejarah Nasional Indonesia dan Umum SMA. Jakarta Peradaban Islam. Jakarta Rajawali PersBadri YatimBadri Yatim. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta Rajawali Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Analisis FramingAlex SoburSobur Alex. 2002. Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Analisis Framing. Bandung PT Genius dalam Kehidupan Beragama" dalam Ayotrohaedi. Kepribadian Budaya Bangsa Local GeniusSoedimanSoediman. 1986. "Local Genius dalam Kehidupan Beragama" dalam Ayotrohaedi. Kepribadian Budaya Bangsa Local Genius. Jakarta Pustaka Sejarah dalam Rangka Pengembangan Memori Kolektif dan Jatidiri Bangsa. Makalah Tribute untuk ProfS HasanHamidHasan, S. Hamid 2008. Pendidikan Sejarah dalam Rangka Pengembangan Memori Kolektif dan Jatidiri Bangsa. Makalah Tribute untuk Prof. Sartono Sejarah IndonesiaS HasanHamidHasan, S. Hamid. 2012. Pendidikan Sejarah Indonesia. Bandung Rizqi Buku Teks Sejarah Kriteria dan PermasalahannyaHelius SyamsudinHelius Syamsudin, "Penulisan Buku Teks Sejarah Kriteria dan Permasalahannya".Memahami Bahasa agama Sebuah Kajian Heureumatika. Jakarta Lembaga Studi Pers dan PembangunanKomarudin HidayatHidayat, Komarudin. 1996. Memahami Bahasa agama Sebuah Kajian Heureumatika. Jakarta Lembaga Studi Pers dan Pembangunan.
Mahandis Yoanata Thamrin Para prajurit Keraton Yogyakarta, dari berbagai kesatuan wilayah, bersiap melakukan upacara Grebeg Syawal. kini dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia, ternyata dalam proses penyebarannya agama Islam mengadopsi tradisi Hindu-Buddha. Terbukti dari bangunan masa kesultanan yang memiliki falsafah tersebut. Hal itu diungkap oleh arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, lewat diskusi Arkeologi Al-Qur'an di Nusantara, Jumat, 9 April 2021. Dalam forum itu juga ia memperkenalkan bukunya, Lawang Seketeng, yang mencatat temuan adopsi itu. Konsep Hindu-Buddha masih digunakan berkat pendekatan ajaran Islam yang disebarkan secara damai dan perlahan. Munandar menyebut, bahkan pembangunannya kesultanan masih menggunakan para pemikir yang mengetahui konsep itu. Baca Juga Sisik Melik Makna di Balik Toponimi 'Jalan Malioboro' di Yogyakarta Adopsi konsep juga dinilai dianggap diperbolehkan, dengan syarat tak mengganggu paham akidah Islam. "Kesinambungan konsep ruang ini saya amati terus berlanjut, seperti konsep Mahamerus sebagai pusat alam semesta, konsep Triloka-yang membagi tiga dunia, konsep Dewa Penjaga Mata Angin, dan Catuspatha," paparnya. Konsep-konsep itu sebenarnya sudah dikenal di era Hindu-Buddha di Jawa, terutama di masa akhirnya, Kerajaan Majapahit. Dalam paham Hindu-Buddha di Nusantara, masyarakat kerajaan mengenal penyakralan gunung. Kemudian diadopsi di periode Islam. Ia memberi contoh penyakralan tersebut lewat tempat makam para wali di gunung, dan keraton yang memiliki wilayah kuasa di sana. "[Kesultanan] Cirebon sendiri-dekat tempat asal saya, mereka mengacu pada Gunung Ciremai yang ada di belakangnya. Itu dianggap sakral," ujarnya. Baca Juga Mudik Lewat Cirebon, Ini 5 Kuliner Khas untuk Berbuka Puasa Hafidz Novalsyah/National Geographic Traveler Seorang abdi dalem dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, membantu mengamankan prosesi Grebeg. Pada konsep Triloka yang berdampak pada sistem tata ruang Kerajaan Hindu-Buddha pun diadopsi. Ia menyebut bagaimana sistem tata ruang keraton berbagai kesultanan di Jawa masih mengikuti Majapahit. "Disadari atau tidak, tetap terlihat dalam penatapan keraton-keraton di Jawa. Coba kita lihat di Cirebon, pembagian triloka jeroan depan, belakang itu sangat nyata," jelasnya. Konsep itu meletakkan pasar di sisi utara keraton, sama halnya dengan yang ada di Jogja, pasar Beringharjo. Meski kentara dan bukan prinsipnya, itu adalah simbol bahwa sisi utara selalu identik dengan dunia kehasratan. Tata ruang ini juga kentara dengan konsep Astadikpala Delapan Dewa Penjaga Mata Angin, yang terlihat dengan konsep pintu utama keraton dan alsafah peletakan bangunan kerajaan. Konsep Astadikpala ini sendiri sudah umum di dunia arkeologi Nusantara untuk memahami ruang. Berdasarkan catatan temuan, konsep dijalankan sejak masa Mataram kuno. "Misalnya, istana Sultan kini selalu menghadap ke timur yang menyimbolkan Indra. Sebab Indra adalah rajanya para dewa," ungkapnya. "Lewat konsep ini, sultan itu identik sebagai penguasa dari timur." Baca Juga Sumpah di Perbukitan Mollo, Kemenangan Kaum Ibu Melawan Pertambangan Budi ND Dharmawan Abdi dalem Keraton Yogyakarta bersiap membakar kemenyan di kompleks makam Raja Mataram di Imogiri. Pada kasus keraton Yogyakarta, konsep Astadikpala kian nyata dengan meletakan alun-alun di sisi selatan yang menggambarkan dunia gaib dan kematian. Sisi selatan sendiri dalam konsep itu dipegang oleh dewa Yama-dewa yang akan dijumpai pertama kali oleh orang yang meninggal. Sedangkan Gunung Merapi yang sebenarnya condong di sisi timur laut Jogja, yang merupakan arah perenungan dan ketenangan. Astadikpala juga mudah ditemukan dalam rangkaian arsitektur dan gaya seni yang masih tersisa, bahkan di dalam masjid yang dikemas dengan estika Islam. Penggunaannya juga masih diaplikasikan dalam pakaian kebesaran Keraton dengan emblem dengan bentuk konsep itu. Selain Astadikpala, hal seragam yang sangat menonjol dengan sisa kebudayaan Hindu-Buddha yang diterapkan juga lewat telaga buatan. Yunaidi Joepoet Wisatawan menikmati keindahan Umbul Muncar yang terletak di Kompleks Taman Sari Yogyakarta, Minggu "Setiap kali saya ke Trouwulan, itu ada segaran atau danau buatan yang berisi air sebagai penanda kota dan pelengkap kota," paparnya dan menerangkan penggunaan segara tua yang ditemukan barulah dari masa Majaphit. Pembangunan danau buatan atau segara ini bisa dilihat di Kesultanan Cirebon lewat Balong Segara, Tasik Ardi oleh Kesultanan Banten, dan Tamansari oleh Kesultanan Yogyakarta. Danau buatan itu sendiri memiliki dua makna, prgamatis dan dan simbolis. Munandar memaparkan, secara pragmatis ialah sebagai penampung air, cadangan air kejaan, dan rekreasi. Pada sisi simbolik, tempat itu mengacu pada kekuatan makrokosmos karena tempat itu hanya boleh diisi Sultan sebagai simbol Jambudwipa. Tempat yang sering didatangi pihak Keraton di segara itu adalah pulau kecil di tengahnya untuk menyepikan diri. Baca Juga Simbol-simbol Relief Gereja Puh Sarang dalam Bingkai Hindu-Jawa "Ini simbol kekuasaan dan keunggulan raja, sebagai simbol waruna-tempat tata aturan semesta. Berarti, tanpa raja, kerajaan ini bisa kacau," tambahnya. Meski demikian, Munandar mengakui bahwa buku terbarunya yang mengkaji simbol dan konsep ini masih sekedar pengantar dan masih terbatas di Pulau Jawa saja. Ia tak menutup kemungkinan bila konsep paham ini juga diterapkan di kerajaan di luar Pulau Jawa. Harapnya, paparannya lewat buku itu bisa jadi acuan untuk studi arkeologi keislaman yang memiliki kesamaan dengan masa Hindu-Buddha lebih dalam lagi. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
kesinambungan sejarah antara masa hindu budha dengan masa islam